1. HOME
  2. »
  3. BERITA

Indonesia dinilai perkuat reputasinya sebagai pusat ekonomi global

Editor: Haris Kurniawan  23 Mei 2017 15:26
Hal itu dikatakan oleh Kepala Balitbang Pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno.

Merdeka.com, HARDIKNAS - Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya dalam era globalisasi memunculkan tantangan tersendiri bagi pendidikan Indonesia. Karena perumusan strategi dan kebijakan pendidikan berkejaran dengan percepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno, dalam Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan, di Plasa Insan berprestasi, Gedung A lantai 1 Komplek Kemendikbud, Jakarta, Selasa (23/5).

"Di satu sisi, Indonesia semakin memperkuat reputasinya sebagai pusat ekonomi global. Bank Dunia (2015) memprediksi bahwa Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan bertumbuh dua kali lipat dari angka PDB dunia, pada tahun 2020. Setiap tahunnya lebih dari 5 juta orang Indonesia ‘naik segmen’ dan masuk dalam kelas sosial menengah yang jumlahnya diperkirakan akan mencapai angka 135 juta orang pada tahun 2030 (McKinsey & Company)," kata dia.

Sebagai rumah dari 250 juta penduduk, kata Totok, yang akan segera menikmati potensi dari bonus demografi, Indonesia pun diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya secara signifikan terhadap perekonomian global.

"Asean Business Outlook Survei 2014 menyebutkan Indonesia sebagai negara tujuan utama investasi asing di wilayah Asean," ucap dia.

Namun, kata Totok survei tersebut juga mengidentifikasi bahwa Indonesia memiliki tenaga kerja dengan keahlian rendah dan murah.

Hal-hal tersebut, kata Totok dapat menjadi peluang, namun sekaligus tantangan bagi pendidikan Indonesia. Bekerja di abad 21 berarti menjadi lebih internasional, multikultural dan saling berhubungan.

"Pekerjaan-pekerjaan baru pun muncul berdasarkan produksi, analisis, distribusi dan konsumsi informasi," kata dia.

Selain itu, kata Totok tempat kerja menjadi lebih berbasis komputer dan bertransformasi seiring dengan hadirnya teknologi baru yang mengubah pola hidup manusia. Dibandingkan dengan apa yang dilakukan 20 atau 30 tahun yang lalu, para lulusan Indonesia kini membutuhkan lebih banyak keterampilan untuk dapat berhasil dalam menghadapi persaingan ketat di abad ke-21.

"Untuk itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan strategi dan relevansi kebijakan pendidikan yang dihasilkan,  seperti kebijakan yang terkait dengan kurikulum, penilaian pendidikan, kualitas guru, dan metode pembelajaran bagi pemaksimalan capaian pendidikan nasional dalam rangka penyiapan generasi muda Indonesia yang siap menghadapi tantangan global," katanya.

Menurut Totok pentingnya reformasi kurikulum sudahkah kurikulum pendidikan nasional kita relevan dalam menyiapkan peserta didik dan generasi bangsa sebagai anggota masyarakat global?

‎"Dalam dua dekade terakhir, terjadi perubahan arah tren global, termasuk terjadinya pergeseran paradigma dari memahami pendidikan, persekolahan dan pengajaran sebagai perwujudan dari tujuan mentransfer fakta-fakta, menjadi fokus pada menghasilkan keluaran pembelajaran murid yang baik dan fokus pada pelibatan murid dalam pemaknaan dan pembangunan pengetahuan," ucapnya.

Terkait dengan hal tersebut, lanjut Totok adalah terjadinya pergeseran penekanan pedagogis, dimana sebelumnya murid belajar dengan cara menghafal informasi atau pengetahuan, menjadi pembekalan murid dengan kemampuan melakukan analisis, sintesa, evaluasi dan mengaplikasikan pengetahuan.

"Hal-hal tersebut membuat reformasi kurikulum menjadi suatu keniscayaan," ujarnya.

Menurut Totok untuk para penyusun kurikulum dan penulis buku teks pelajaran harus melakukan refleksi apakah desain, standar dan dukungan terhadap kurikulum, terutama bagi guru, telah cukup, dalam rangka membantu para pendidik dan sekolah memberikan instruksi serta pengalaman belajar yang optimal bagi perkembangan aspek keterampilan kognitif, interpersonal dan intrapersonal murid.

"Mereka harus mampumampu menerjemahkan proses belajar menjadi pengalaman pendidikan yang dapat menyiapkan generasi muda dalam memecahkan tantangan dan masalah kompleks dari masyarakat dunia yang beragam dan terus berubah pesat," katanya.

‎Untuk itu, kata Nizam bahwa reformasi kurikulum diharapkan mampu menjadikan putra-putri Indonesia sebagai warga dunia di abad 21 yang mumpuni, terkoneksi dan bekerjasama secara global dengan berbekal pengetahuan, keterampilan, penguasaan teknologi dan kemampuan komunikasi, serta kolaborasi yang dibutuhkan, sesuai standar internasional.

Dalam hal ini, K-2013 diharapkan mampu menumbuhkan praktik pembelajaran baru, termasuk mendorong murid belajar secara mandiri, mempertanyakan suatu hal secara kritis, membuat keputusan, melakukan observasi, menjalin komunikasi dan menciptakan sesuatu.

"Berkolaborasi dan bekerjasama untuk memecahkan masalah,  dan mengubah peran guru dari sumber segala informasi menjadi pengelola proses pembelajaran yang terjadi di dalam dan di luar kelas," katanya.

KOMENTAR ANDA

Join Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan