1. HOME
  2. »
  3. BERITA

Lewat game, Clevio ajak anak produktif untuk belajar

Editor: Haris Kurniawan  22 Mei 2017 09:51
Efek buruk lain dari kecanduan game ialah mempengaruhi cita-cita.

Merdeka.com, HARDIKNAS - Rutinitas anak yang kerap bermain gadget hingga berjam-jam menjadi keluhan kebanyak orang tua. Pasalnya, apabila sudah kecanduan, anak acap kali lupa untuk makan dan belajar. Apalagi, kalau buah hati sudah bermain game tertentu yang digemari.

Belum lagi jumlah game berkonten negatif lebih banyak dibanding positif dan edukatif. Bahkan, game negatif lebih cepat populer dan banyak dicintai anak-anak.

Efek buruk lain dari kecanduan game ialah mempengaruhi cita-cita. Bila dulu bercita-cita menjadi dokter, polisi, astronot, dan profesi lain. Kini, anak-anak terdorong menjadi youtuber atau game lover, misalnya.

Namun, kata CEO Clevio Coder Camp, Aranggi Soemardj, anak-anak yang suka bermain game sepenuhnya tidak buruk. Karenanya, perusahaan di bidang pendidikan dan teknologi yang dipimpinnya mencoba 'menggiring' anak untuk lebih produktif.

"Kita melihat game itu bukan musuh, tapi game itu melihat sebagai kesempatan," kata ‎Aranggi Soemardj, CEO Clevio, saat Workshop Parenting yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Lippo Mall Puri, Kembangan, Jakarta Barat, Minggu (21/5).

Dalam diskusi bertajuk "Mengubah Ketagihan Game Jadi Ketagihan Belajar" ini, Aranggi menambahkan, orang tua harus sudah mulai mengubah paradigmanya tentang belajar. Yakni, memanfaat game sebagai sarana edukasi, sehingga anak bersemangat ketika belajar.

"Sama dengan PR (pekerjaan rumah). Cuma bedanya motivasinya. Kalau PR tidak bermotivasi, kalau game bermotivasi. Kita ubah PR rasanya seperti kayak game," katanya mencontohkan.

Menurutnya, game sesungguhnya juga sebuah masalah. Sehingga, butuh fokus atau strategi tertentu untuk memecahkannya.

Clevio menerapkan tiga cara agar aktivitas tersebut menjadi baik. Pertama, menyosialisasikan dan mengajak anak bermain game positif. Kedua, mengambil faidah dari game dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Soal hadiah (reward) misalnya.

"Reward yang dapat di game itu cuma bintang. Cuma masalah, enggak ada duitnya. Orang mau mati-matian dengan mendapatkan bintang tidak bisa ditukar di toko," bebernya.

Terakhir, Clevio mendorong anak menjadi pencipta (game developer). Pada tahap ini, anak telah melalui langkah yang progresif.

"Enggak sekadar belajar mengenai content dari gamenya sendiri, tapi bagimana untuk bikin soalnya, bagaimana bikin masalahanya. Jadi, mereka belajar inovasi," jelas Aranggi.

Untuk tahap awal, anak-anak didorong dengan game yang sederhana dari program apapun yang mereka ketahui dan sukai.

KOMENTAR ANDA

Join Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan