1. HOME
  2. »
  3. BERITA

Tenaga pustakawan jadi poros terdepan gerakan literasi sekolah

Editor: Hery Hardjo Winarno  24 Mei 2017 17:29
Perpustakaan perlu dikelola oleh tenaga yang berkompeten di bidang perpustakaan, minimal berlatarbelakang D2 Ilmu Perpustakaan.

Merdeka.com, HARDIKNAS - Tenaga perpustakaan sekolah merupakan poros terdepan dalam gerakan literasi sekolah. Pernyataan tersebut mengemuka saat pembukaan Seminar Nasional Revitalisasi Tenaga Perpustakaan Sekolah dalam Menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah, di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senayan, Jakarta, Selasa (23/5).  
 
Ketua Umum Asosiasi Tenaga Perpustakan Sekolah Indonesia (ATPUSI), Muhamad Ihsanudin, mengatakan kondisi perpustakaan sekolah masih belum maksimal dikelola oleh tenaga perpustakaan. Sebaliknya, pengelolaan perpustakaan dominan dikelola oleh guru.  
 
"Di sinilah, dibutuhkan revitalisasi tenaga perpustakaan. Perpustakaan perlu dikelola oleh tenaga yang berkompeten di bidang perpustakaan, minimal berlatar belakang D2 Ilmu Perpustakaan," jelasnya.
 
Apabila hendak dikelola guru, kata Ihsanudin, seperti diklat perpustakaan perlu diberikan agar dapat meningkatkan kemampuan guru di bidang perpustakaan. Sementara itu Deni Kurniadi, Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan Nasional RI menjelaskan terdapat berperan penting perpustakaan bagi peserta didik dan guru.  
 
"Perpustakaan sangat berperan penting bagi peserta didik dan guru, sebagai tempat kegiatan peserta didik dan guru memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan perpustakaan dengan membaca, mengamati, mendengar dan sekaligus tempat petugas mengelola perpustakaan," ujarnya.  
 
Menurutnya dibutuhkan kreativitas pustakawan untuk membuat perpustakaan menjadi lebih menarik untuk dikunjungi. Dengan perpustakaan yang menarik maka tingkat baca akan lebih tinggi.
 
"Tantangan pustakawan sekolah saat ini adalah bagaimana membuat perpustakaan menjadi menarik untuk dikunjungi dengan koleksi dan fasilitas yang ada," ujar Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hurip Danu Ismadi menambahkan.  
 
Ketika minat untuk mengunjungi sudah terbentuk, maka sejalan, minat membaca pun akan bertumbuh. Dalam mendorong siswa untuk mengunjungi perpustakaan, pengelola dapat memberikan apresiasi kepada siswa yang sering datang, seperti memberikan hadiah bagi peminjam terbanyak. Pengelola perpustakaan sekolah juga bisa mengadakan pemilihan duta baca atau pustakawan cilik.
 
"Jadilah kreatif, hapuskan terlebih dahulu stigma masyarakat Indonesia tidak gemar membaca,” tegas Danu.
 
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Dadang Sunendar, mengamini hal tersebut. Menurutnya, meskipun data Program of Internasional Student Assesment  (PISA) tingkat baca Indonesia rendah, yakni berada di posisi 69 dari 76 negara, namun beberapa wilayah di Indonesia anak-anak sangat menunggu kedatangan penggiat literasi membawa buku.  
 
Seminar ini sendiri dihadiri oleh 91 peserta yang berasal dari pengurus ATPUSI dan tenaga pengelola perpustakaan sekolah yang berasal dari Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi, Cilegon, dan Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan bagi pustawakan sekolah agar dapat menjadi instruktur maupun satuan tugas dalam menyukseskan gerakan literasi sekolah di sekolahnya.  
 
Seminar diisi dengan empat narasumber yaitu Danang Sunendar selaku Kepala Badan Bahasa Kemdikbud, Deni Kurniadi selaku Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan Nasional RI, Hurip Danu Ismadi, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahas dan Muhamad Ihsanudin selaku Ketua ATPUSI.

KOMENTAR ANDA

Join Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan